Sebuah studi baru dari lembaga survei Niel son Co menegas kan apa yang sekarang tengah terjadi Smartphone menang dan televisi tradisional kehilangan pamornya. Terutama, untuk pemirsa berusia 18-34 tahun.
Dalam survei yang hasilnya diumumkan pengujung bulan lalu, Nielsen mengatakan bahwa menonton TV tradisional semua kelompok umur mencapai puncaknya pada kurun 2009-2010. Sampai saat itu, penonton untuk TV telah tumbuh setiap tahun sejak tahun 1949. Kini, angkanya terus merosot.
Studi ini adalah yang pertama dilakukan Nielsen secara komprehensif untuk melihat perilaku menonton video melalui TV tradisional, internet, ponsel, dan perangkat lainnya. Data yang mendasari laporan ini menunjukkan bahwa di antara responden usia 18 sampai 34 tahun, penggunaan smartphone, tablet, dan perangkat yang terhubung dengan TV seperti streaming atau game konsol mening kat lebih dari 25 persen pada Mei di bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sekitar 8,5 juta orang per-menit. Dalam kategori yang sama, menonton TV turun 10 persen menjadi 8,4 juta orang per menit.
Jelas dari studi itu, pemirsa kini menghabiskan lebih banyak waktu pada smartphone, tablet, dan perangkat terhubung TV jika ingin menonton acara TV. berbarengan dengan itu, banyak iklan yang terlewatkan atau bahkan kemudian dihapus, hal yang mempengaruhi basis klien Nielsen secara signifikan.
Industri TV terlambat
Dari sisi teknologi saja, Indonesia belum mampu mengalihkan siaran televisi dari analog ke digital. Di saat negara-negara lain di dataran Eropa dan Amerika sudah mematikan sinyal analognya sebelum 2010, Indonesia baru merencanakan akan benar-benar menghentikan analog pada Juni 2020. Belum lagi dari sisi konten. Tayangan televisi tak lagi menarik bagi generasi muda.
Pendapat yang sama disampaikan Ketua Bidang Industri Penyiaran Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Hardijanto Saroso. Menurut dia, pola konsumsi sekarang makin personal alih-alih umum untuk dinikmati bersama-sama seperti dulu. Dari sisi durasi, tayangan berdurasi lama pun makin tergerus dengan tayangan dengan durasi singkat. "Sekarang sukanya makin beda-beda. Udah enggak ada long hours viewing. Paling kalau nonton bola, final badminton, atau tinju saja," ujar Hardijanto.
Agar mampu bertahan, industri televisi perlu mengbah format tayangannya. Misalnya, dengan memperbanyak citizen journalism atau jurnalisme warga. Selain memperkaya konten dan mengikuti selera penonton, mengandalkan jurnalisme warga dinilai akan lebih hemat dari sisi produksi. Langkah ini diterapkan NET TV setelah biro Jawa Tengah dan Jawa Timurnya ditutup. "Itu adalah public contet generator, itu tidak di-generate oleh televisi tapi di-generate oleh komunitasnya," kata Hardijanto.
TV Di Era Digital Apakah Akan Menjadi Usang atau mati?
Referensi :
- https://www.kompas.com/tren/read/2019/08/25/070000265/sudah-siapkah-televisi-indonesia-hadapi-disrupsi-digital?page=all
- https://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/16/01/13/o0vsw59-nasib-televisi-di-era-internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar